[Vignette] Not Abandoned

NOT ABANDONED

.

Hurt-Comfort, Angst || Vignette || PG-17

.

Starring
[Wanna-One] Kang Daniel, [soloist] Kim Chungha

.

“Kau hancur! Kau kotor! Riwayatmu tamat! Jadi, apa gunanya lagi kau hidup?”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit moodboard to juliahwangs

.

Read First!
[#1] Hardcore Night || [#2] We Don’t Talk Anymore

.

Recommended song:
Love Again by Takada Kenta

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Berat dari pita plastik putih kecil yang sering disebut orang-orang sebagai test pack itu sebenarnya tidak sampai satu gram, tetapi bagi Kim Chungha terasa begitu berat sampai-sampai ia harus memeganginya dengan kedua tangan hingga gemetar. Dengan jantung bertalu-talu, Chungha yang baru saja mengecek kondisi tubuhnya sekaligus membuang air kecil pun kini perlahan membalik pita putih di tangannya tersebut.

Apapun hasilnya, Chungha harus siap menerima.

Dua garis.

Mimpi buruknya menjadi kenyataan. Dunianya runtuh seketika.

Chungha menghembuskan napas panjang, memejamkan mata, dan menyandarkan punggung pada dudukan toilet apartemen kecilnya. Kepalanya mendadak terasa pening dan pelipisnya berdenyut. Tetes demi tetes air mata merembes keluar menuruni pipi.

Berarti memang bukan tanpa alasan bila selama ini ia mengalami tidak nafsu makan, mual-mual, bahkan sering muntah. Awalnya Chungha pikir ini adalah komplikasi dari stresnya yang berkepanjangan. Well, bukannya Chungha mau menyangkal kenyataan bahwa mungkin hubungan satu malam dengan pria yang tak ia kenali itu juga turut ambil andil. Tetapi, bukankah ia memakai pelindung?

Atau tidak?

Chungha mulai terisak. Sekarang apa? Setelah ia memutuskan menjadi seorang pembangkang dan kabur dari rumahnya yang bagaikan neraka, berlagak menjadi putri mandiri yang mengira dapat mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang tua, dan sekarang baru kembali pada mereka setelah merasa hidupnya hancur?

Hei, Chungha juga masih punya harga diri! Kalau ia kembali sekarang dalam keadaan kotor dan membawa aib, itu bagaikan menjilat ludah sendiri!

Baiklah Chungha-ssi, mulai sekarang aku akan bertanggung jawab atas segala yang telah kuperbuat semalam. Tak akan kubiarkan kau menderita sendiri. Aku sangat tahu bagaimana perasaan seorang wanita.

Kata-kata pria itu mendadak terngiang di pendengaran Chungha. That’s it! Chungha yakin pria itu bukanlah pria berengsek yang akan meninggalkannya begitu saja seolah barang rongsokan. Chungha tak akan menuntut secara paksa, toh ia bukan korban perkosaan. Maksudnya, di sini kehendaknya juga ikut ambil bagian dalam kejadian malam itu. Tetapi, tidak ada salahnya kan meminta pria itu untuk menopang hidupnya? Setidaknya sampai emosi Chungha kembali stabil atau sampai bayi ini lahir?

Chungha buru-buru memakai kembali dalamannya dan mem-flush toilet, kemudian segera kembali ke kamar dan membongkar keranjang pakaian kotornya. Untung saja ia belum sempat mencuci celana hitam yang ia pakai ke bar waktu itu. Dalam kantung celana itu, tersimpan sebuah kartu nama, lengkap dengan logo perusahaan tempat sang pemilik bekerja.

Kang Daniel. Head of Public Relationship Management.

Chungha langsung mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera pada kartu nama tersebut. Namun, jawaban operator yang ia dengar berikutnya membuat gadis itu menghela napas.

Nomor tersebut sudah tidak aktif.

Berkali-kali mencoba, tetapi hasilnya tetap sama. Terakhir, Chungha melempar ponselnya ke jendela sambil berteriak, sebelum ia kemudian berjongkok dan menelungkupkan wajahnya; menangis. Ia kotor, hancur, dan frustrasi.

Tak ada gunanya mengharapkan Kang Daniel. Semua lelaki di mana-mana sama; berengsek.

***

Tidak ada yang berani mendekati Kang Daniel selama dua hari terakhir. Daniel tak ubahnya seekor singa jantan yang akan mengaum dan menerkan bila ada yang mengganggu (kalau istilah wanita PMS pantang untuk digunakan). Mood-nya tampak jelas berantakan dan wajahnya kusut bagai butuh disetrika. Ia akan mengomel hingga marah-marah bila ada sesuatu yang salah, bahkan hal terkecil sekalipun. Padahal bukannya ia lupa meminum kopi paginya; mengingat Daniel adalah tipikal orang yang butuh secangkir kopi untuk memulai hari. Hanya saja ada hal mengganjal yang sukses memporakporandakan suasanan hatinya.

Jeon Somi sang sekretaris pribadi masuk ke ruang kerjanya dan meletakkan secangkir kopi di atas meja Daniel. “Minumlah,” ujar gadis campuran Kanada-Korea itu. “Mungkin setelah ini perasaanmu akan lebih baik.”

“Percuma,” balas Daniel sambil mengacak rambut kecoklatannya karena jengkel. “Kau pikir aku dapat duduk tenang bila tak dapat memegang ponselku?”

Ck. Kau tak ada bedanya dengan anak remaja yang kecanduan gadget.”

Daniel melempar tatapan tajam pada sekretaris surai gelombang tersebut. “Ada hal layaknya masalah pribadi yang tak kau ketahui, Somi-ssi. Dan kupikir aku tak perlu menceritakannya. Omong-omong, tidak ada kabar sama sekali tentang ponselku?”

“Tidak. Samuel belum berhasil melacak keberadaan ponselmu. Kemungkinan terburuk, ponselmu benar-benar hilang, tak dapat lagi ditemukan. Tetapi akan kami pastikan bahwa seluruh akses informasimu melalui ponsel itu akan terblokir.”

Daniel duduk dan menyesap kopinya. Pelipisnya mulai berdenyut. Benaknya kembali teringat akan gadis satu malamnya. Gadis itu sekilas memang terlihat kuat dan tegar, tetapi bila menilik sorot matanya, Daniel tahu bahwa ia menyimpan kekosongan serta kesedihan yang mendalam. Bagai buluh yang telah terkulai, disentuh sedikit lagi saja akan patah.

Dan yang disesali, Daniel malah memperparah kerusakan porselen retak yang rapuh itu.

Bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Tidak mungkin. Memangnya hal baik apa yang bisa diharapkan dari sesuatu yang telah rusak? Lagi, apakah gadis itu membutuhkannya? Apa gadis itu menghubunginya? Apa gadis itu mencarinya? Apa … sesuatu terjadi padanya?

Pria itu kembali meringis. Akh …. Seandainya saja ponselnya tidak hilang, tentu ia bisa menghubungi wanita itu sekarang.

“Somi-ssi,” panggil Daniel, “apa jadwalku selanjutnya?”

Somi mengambil iPhone dari saku blazernya. “Rapat dan disambung makan malam dengan direktur Hanyang International Group. Kemudian esok hari pertemuan dengan—“

“Batalkan semua itu,” potong Daniel cepat.

NE?!”

“Maksudku, suruh Seongwoo untuk pergi menggantikanku pada semua pertemuan gila itu. Aku mau pulang sore ini juga. Tolong pesankan tiket pesawat ke Seoul untukku.”

Bola mata Somi seketika membola layaknya ikan koki. “Kau gila! Mereka itu direktur eksekutif yang—Okay, okay. Akan kupesankan tiket Jeju-Seoul untukmu.” Somi buru-buru mengubah nada bicaranya ketika Daniel kembali melayangkan tatapan ingin menelan bulat-bulat.

Keputusan mendadak itu segera dikabarkan dan dilaksanakan meski terburu-buru. Seongwoo yang tadinya hanya berperan sebagai wakil sekretaris kini didapuk menjadi pengganti Daniel dalam pertemuan dengan partner bisnis perusahaannya. Sementara Daniel dan Somi langsung terbang ke Seoul sore itu juga.

Mereka tiba di Seoul menjelang malam. Meski telah kembali ke ibu kota Korea Selatan tersebut, Daniel masih belum bisa tenang. Ponselnya yang hilang kembali membuatnya frustrasi. Sekarang apa? Bagaimana cara ia menghubungi dan memastikan keberadaan gadis itu?

“Kau kenapa, sih?” tanya Somi yang mulai jengah melihat atasan sekaligus sahabatnya yang bagai orang kesetanan ketika mengemudikan mobil perusahaan; melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya Kota Seoul. “Apakah ada tempat yang harus kau kunjungi? Orang yang harus kau temui?”

“Ada. Kesalahan terbesarku,” jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.

Somi ternganga. “Siapa? Mantanmu?”

Worse than that.”

Sang sekretaris memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia takut konsentrasi Daniel akan terganggu dan perjalanan mereka kali ini akan menjadi trip menuju keabadian.

Daniel mencoba mengingat alamat apartemen gadis itu. Seingatnya lokasi apartemen tersebut tidak jauh dari jembatan sungai Han. Mungkin sekitar sepuluh hingga lima belas menit dari jembatan tersebut.

Pertanyaannya, apa gadis itu ada di sana?

“BERHENTI!!!”

Pemuda Kang itu buru-buru menginjak pedal rem, menyebabkan keduanya terdorong ke depan dan hampir menumbuk dashboard mobil.

“KAU GILA?!!” semprot Daniel dengan amarah yang menyala di matanya.

Tetapi sang sekretaris tampak mengabaikan pertanyaan tersebut karena ia malah sibuk menunjuk-nunjuk ke depan dengan ekspresi wajah penuh ketakutan.

Daniel mencoba mengikuti arah telunjuk Somi. Tampaklah seorang gadis yang tengah berdiri di tepi pembatas jembatan sungai Han dengan badan condong ke depan. Daniel menghela napas.

Ia telah menemukan seseorang yang ia cari.

***

Dengan terseok-seok Chungha menyeret tungkainya menyusuri trotoar jalanan kota Seoul. Berjalan entah kemana intuisi membawanya, sebab ia sendiri memang tak punya tujuan. Sendirian; hanya ditemani angin malam yang dinginnya menusuk tulang, serta hiruk pikuknya kota Seoul yang individualis. Chungha menghela napas, berharap bahwa tindakan kecil itu dapat membenahi perasaannya yang kacau.

Kini Chungha tak punya pegangan hidup. Ia telah dicoret dari kartu keluarga sekitar dua jam yang lalu akibat ia nekat pulang dengan membawa tanggungan dalam kandungannya. Nomor telepon Kang Daniel tidak aktif, tanda bahwa ia sudah membulatkan tekad untuk mencampakkan gadis itu. Chungha sendirian. Satu-satunya teman hidup hanyalah bayi yang ada dalam rahimnya—Oh, mungkin lebih tepatnya janin berusia beberapa hari yang setiap saat bisa Chungha gugurkan kapanpun akal sehatnya menghilang.

Angin malam kembali bertiup dan mengibarkan surai gadis itu. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Kembali ke apartemen kecilnya lalu bertekad pada diri sendiri untuk menjadi wanita kuat? Membusungkan dada dan menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa menghidup diri sendiri serta bayinya?

Tidak. Chungha belumlah setegar itu.

Chungha mengedarkan netra dan menatap sekeliling, meski pandangannya kabur oleh air mata. Samar-samar ia menangkap bayangan dinding tepi pembatas jembatan Sungai Han.

Pandangan Chungha tertumbuk pada permukaan air sungai yang memantulkan sketsa langit malam. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Apakah air sungai itu dingin? Apakah bila ia terjatuh ke dalam akan terasa sakit?

Mungkin, tetapi setidaknya ini lebih baik daripada menanggung aib seumur hidup. Menderita untuk beberapa menit dan mendapat ganti kebahagiaan untuk waktu tak terhingga, lepas dari semua mimpi buruknya.

Mungkin beberapa orang akan bersedih dan menangisi kepergiannya. Hanya untuk sementara. Setelah itu mereka akan kembali disibukkan oleh rutinitas. Insiden Chungha perlahan akan terlupakan.

Chungha menunduk dan menatap perutnya sedih. Setetes likuid bening kembali mengalir di pipinya.

“Maafkan Ibu, nak … “ isak Chungha pada janin yang ia yakin belum memiliki indra pendengaran tersebut.

Chungha mulai menghampiri pembatas jembatan tersebut. Pandangannya kosong. Dicengkramnya pegangan besi yang dingin tersebut dengan erat. Ia menarik napas panjang, membulatkan tekad. Ia akan menyelesaikan ini secepat mungkin.

Perasaan Chungha bergejolak. Satu sisi ia ingin lekas mengakhiri hidupnya, sisi lain hati nuraninya mengatakan bahwa ini adalah tindakan yang salah. Secuil asa yang masih tersisa berbisik bahwa masih ada harapan di balik kehancurannya.

Tidak mungkin. Harapan seperti apa yang bisa diandalkan dalam situasi seperti ini?

Tapi pria itu berjanji akan bertanggung jawab!

Kau percaya akan kata-kata seorang pria? Hei, dimana harga dirimu, Kim Chungha?

Tidak semua pria berengsek seperti yang kau kira!

Buktinya, dimana ia sekarang? Apakah ia menampakkan batang hidungnya di depanmu? Bahkan ponselnya pun sudah tidak aktif.

Kau wanita yang tegar, Chungha-ya! Kau kuat! Buktikan pada mereka bahwa kau bisa bangkit dari keterpurukanmu!

Kau telah dicampakkan, Kim Chungha! Daniel tak lagi menganggapmu! Keluargamu membuangmu! Riwayatmu tamat! Apa lagi gunanya kau hidup?

“AAAAAAA!!!” jerit Chungha frustrasi. Ia gila dengan semua suara yang saling bersahutan di pikirannya.

Cengkramannya pada pembatas jembatan melemah. Isakan kecilnya kembali lolos. Badannya yang sempat condong ke depan untuk ancang-ancang menerjunkan diri kini mulai merosot ke bawah, bersamaan dengan kakinya yang tertekuk untuk berjongkok. Ia menangis. Ia tak mampu melanjutkan tindakan gilanya.

Tepat saat itu sesuatu tersampir di pundaknya.

Chungha buru-buru mengusap air mata dan menoleh ke belakang. Agak sulit pada awalnya untuk menerka sosok di belakang tersebut dengan lampu jalan yang menyorotkan cahaya langsung melawan arah pandangnya. Namun, saat Chungha menyipitkan mata, perlahan sosok itu terlihat lebih jelas.

Pria itu muncul di hadapannya.

Chungha segera berdiri dan merapikan penampilannya. Sedikit rasa malu terselip mengingat kini ia tak ubahnya seorang gembel di pinggir jalan.

“Daniel-ssi.”

“Maafkan aku,” ucap pria itu lirih dengan tertunduk.

Huh?

Chungha mengerjapkan mata ketika Daniel meletakkan kedua tangan di pundaknya. “Dengar. Jangna pernah melakukan tindakan bodoh lagi, apapun bentuknya. Maafkan aku karena tidak menghubungimu. Ponselku hilang di Jeju. Aku pun frustrasi karena hal tersebut. Kurasa sebentar lagi aku akan gila bila tak mendengar kabar tentangmu, jadi kuputuskan untuk membatalkan semua janjiku demi terbang ke Seoul dan mencarimu. Dan mungkin hanya Tuhan yang tahu tindakan tak masuk akal apa yang akan kulakukan seandainya esok hari di surat kabar aku menemukan berita tentang kau yang bunuh diri,” jelas Daniel panjang lebar.

“Jadi … tolong jangan pernah berniatn untuk mencelakakan dirimu lagi,” pinta pria itu sebagai tambahan.

Chungha mundur satu langkah, membuat distansi dari Daniel.

“Kau ….” Pria itu menatap Chungha lekat-lekat. “Sesuatu telah terjadi padamu, kan? Akibat malam itu?”

Air mata merembes keluar seraya Chungha memejamkan kelopaknya. Demi jutaan bintang di langit, mengapa ia harus kembali diingatkan akan kenyataan mengerikan tersebut?

“Jawab aku, Kim Chungha-ssi!”

Bukannya Chungha tidak mau menjawab, tetapi gelombang duka yang menghadangnya bertubi-tubi membuat gadis itu sulit untuk berkata-kata. Ia yang lelah baik secara fisik maupun batin bahkan tak punya tenaga untuk sekadar menjawab pertanyaan pria di hadapannya. Chungha hanya dapat mematung sambil memandang Daniel dengan dwimanik berkaca-kaca.

“Kau … hamil, kan?”

Saat itulah pertahanan Chungha bobol. Tangisnya seketika meledak. Tak ada gunanya bersikap sok tegar di hadapan Daniel. Pertanyaan tiga kata itu berhasil meruntuhkan tembok tebalnya.

Sementara Daniel hanya tergugu dengan tangan menutupi mulut. Sesekon kemudian, air matanya menetes.

Chungha terkejut begitu merasakan pelukan erat yang membungkus tubuh mungilnya. Kemudian ia menggeliat, mencoba melepaskan diri.

“Pergi … “ ujar Chungha lemah. “Aku kotor! Aku hancur! Orang tuaku saja mengusirku. Mengapa kau masih ada di sini?”

Daniel yang enggan untuk melepas dekapannya terhadap gadis dengan emosi tidak stabil itu pun menjawab, “Karena … ini semua salahku ….”

Chungha mulai melayangkan tinju-tinju kecil tanpa tenaga pada dada bidang Daniel. “Pergi! Kumohon ….”

“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Maukah kau percaya padaku?”

Gadis itu kembali terisak seraya kepalanya menggeleng. Pertanyaan sederhana, tetapi untuk menjawabnya tak semudah membalikkan telapak tangan.

“Kalau begitu aku tak akan melepaskanmu.”

Kini Chungha diperhadapkan pada pilihan sulit. Ia sudah tidak bisa lagi menyerahkan rasa percayanya pada orang lain, terutama pada orang yang jelas-jelas sudah merusaknya.

Tapi di sisi lain, ia tak punya pegangan lain bila bukan Kang Daniel.

“Chungha-ya ….”

Chungha mengangkat kepala mengikuti gerakan Daniel mengangkat dagunya. Pandangannya memang kabur oleh air mata, tetapi ia dapat merasakan lembutnya manik kelabu itu saat menatapnya, bagai ingin menilik dasar hatinya yang terdalam.

“Kalau kubilang bahwa aku akan bertanggung jawab terhadap semuanya … apa kau mau percaya padaku?”

Chungha ingin membantah. Semuanya tidaklah semudah yang Daniel ucapkan. Satu kalimat janji tak akan mempu mengembalikan semua ke keadaan semula atau mengangkat penyesalan yang menggerogoti mereka. Semua telah terjadi, rusak, dan tak bisa diperbaiki.

Tetapi satu hal, Chungha tahu Daniel pun hancur. Daniel pun menyesal. Dan ia melihat kesungguhan di mata pria itu.

Akhirnya, sebagai jawaban terakhir, dengan aliran air mata yang mengiringi, Chungha pun menganggukkan kepalanya.

 

-fin-

A/N

It’s been a while since the last time I wrote fiction so the words won’t come easily and it feels like I did this fic awkwardly ._.

Anyway, mind to review? 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Not Abandoned

  1. Uwaaaahh setelah sekian lama aku gabaca fiction dan disuguhin naskah hidup dua sejoli ini. Buat aku senyum senyum di akhir /aneh ya ni anak:(/. Geceee buat cerita mereka nikah terus punya anak yaaa yang isinya manis semuaaaa. Yang buat para readers fly ke awan wkwkwk.

    Like

Leave a Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s