[#1 Pick Me] Hyung!

Hyung!

dk1317’s present

Lee Daehwi, Kang Dongho

AU!Future&Past, AU!Chilhood, Slice of life, Friendship

Vignette

G

Disclaimer: Idol milik Tuhan, ide milik saya, jika ada kesamaan ide mungkin kita jodoh/?
a lot of typos, kesalahan tanda baca dan ejaan.

.

“Apa kabar, Hyung?”

..

.

California, 2025

Terlihat seorang laki-laki berparas tinggi keluar dari apartemennya dengan mendorong koper sedang dan menenteng tas backpack berwarna hijau. Siulan merdu lewat begitu saja dari bibir merah jambunya. Nampaknya ia begitu senang hari ini. Sang tetangga Kim Samuel yang tak sengaja lewat di depannya—yang baru saja ingin berolahraga—itu menatapnya sedikit heran.

“Daehwi Hyung,” sapanya ramah

Lelaki yang bernama Daehwi itu menoleh dengan senyum khasnya. Ia menyandang tas dibahu sebelum membalas sapaan tetangganya itu.

Morning, Muel-ah,”

Samuel mengangguk namun masih memperhatikan Daehwi dengan heran. Daehwi hanya tertawa renyah karena tingkah laku menggemaskan dari sang tetangga yang satu tahun lebih muda darinya itu.

“Mau kemana, Hyung? Kenapa pagi sekali?” Samuel mengeluarkan rasa penasarannya

Daehwi tersenyum, “aku mau pulang,” jawabnya pelan

Seakan mengerti, Samuel hanya mengangguk tanpa bertanya lebih. Ia pamit hendak pergi duluan sebelum rasa penasarannya muncul lagi, namun ia terhenti dan berbalik melihat Daehwi yang sedang menarik koper di belakangnya. Rasa penasaran anak ini lebih menang rupanya.

“Memang sudah waktunya, Hyung? Kapan?”

Daehwi tersentak. Kaget dengan pertanyaan Samuel yang tiba-tiba. Ia pikir anak itu sudah pergi menjauhinya. Daehwi tertawa, ia mendekati Samuel yang masih melihatnya dengan penasaran.

“Lusa, Muel-ah,”

Kembali dengan ekspresi mengertinya, Samuel mengangguk. “Titip salamku, Hyung,” pintanya sebelum benar-benar berlari meninggalkan Daehwi. Daehwi hanya mengangguk kemudian memperhatikan langkah Samuel yang perlahan menjauhinya.

Ia tersenyum tipis, sambil berjalan ke arah parkiran untuk menemukan mobil kesayangannya. Ia menaruh koper di bagasi dan naik ke bangku kemudi, melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.

“Aku datang, Hyung,”

..

.

Hongdae, 2006

Ups, aku tidak sengaja menjatuhkan susu cokelatku pada baju Daehwi,” ujar anak lelaki yang hampir sepantaran dengan Daehwi itu

Daehwi terdiam, menatap miris baju yang bercorak sama dengan anak di depannya. Dia tidak apa-apa, hanya saja dia sedih karena baju itu terbatas di sana. Daehwi menahan tangisnya, ia tak bisa kabur karena dikepung anak itu dan teman-temannya.

“Hei, bagaimana kalau dia mengadu nanti?” Tanya salah satu teman dari anak nakal itu

“Haha mana mungkin. Hei, Daehwi, kau boleh mengadu kalau bisa menangkap kami-eh lupa, kau patah kaki,”

Anak-anak nakal yang mengelilingi Daehwi tertawa penuh mengejek padanya. Daehwi hanya diam, tidak berani melawan, kalau ia melawan pasti akan jadi keributan besar, ia tidak mau terima resiko terutama bila harus di keluarkan dari rumah sakit itu. Ya, rumah sakit.

“Oi, bocah! Beraninya hanya menindas anak lemah, kalau mau main jadi jagoan bukan di sini tempatnya! Ini rumah sakit!”

Semua menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki yang jelas lebih tua dari mereka itu berdiri dengan berkacak pinggang dan memiringkan kepalanya, menatap dengan wajah menantang anak-anak nakal yang berada di depannya. Yang ditatap mencibir ketakutan, tak berani melawan sebab tubuh besar orang itu. Mereka berlari terbirit-birit, mencoba menyelamatkan diri masing-masing.

“Ah, dasar anak-anak. Sakit pun masih saja menindas orang,” ujarnya sambil menghela nafas lalu menghampiri Daehwi.

Daehwi sebenarnya juga ketakutan, tapi karena keadaan juga posisinya yang berada di kursi roda tidak memungkinkan kabur dengan cepat dari tempat itu. Lelaki itu sudah berada di depan Daehwi, ia memperhatikan Daehwi dari atas sampai bawah.

“Ayo kuantar, kupikir kau butuh baju ganti,” ujarnya

Ia menarik kursi roda Daehwi dan membawanya masuk ke Rumah Sakit. Suasana canggung tercipta di antara mereka. Yah, mereka sama-sama bukan tipe orang yang mudah bergaul. Lagi pula, Daehwi terlalu takut untuk berbicara duluan. Lelaki itu berdeham, mencoba mencairkan suasana canggung mereka.

“Jadi, siapa namamu?” Tanyanya

“D-daehwi. Lee Daehwi. Eum, H-hyung sendiri?”

Lelaki itu tersentak karena panggilan Daehwi terhadapnya, ia tersenyum geli, “Kang Dongho,” jawabnya.

Dalam sekejab saja, mereka menjadi begitu akrab. Entah apa yang membuat dua lelaki berbeda 6 tahun itu menjadi begitu akrab. Hanya saja, Dongho begitu gemas jika itu berhubungan dengan Daehwi. Daehwi itu sangat lucu, dia selalu mengitu Dongho kemana-mana sejak Dongho menolongnya. Lagi pula, Dongho adalah anak tunggal, dia pikir jika Daehwi menjadi adiknya sangatlah emnggemaskan.

Dongho juga menjadi mudah khawatir terhadap Daehwi. Pikirannya akan kemana-mana jika meninggalkan Daehwi sendirian. Ia berpikir bahwa Daehwi akan diusili lagi dengan geng kecil-kecil tapi evil hari itu. Tak terasa, hari demi hari mereka jalani bersama. Tak jarang Dongho akan bermain ke kamar Daehwi, begitu pula sebaliknya. Bahkan orang-orang di rumah sakit sudah hapal betul dengan mereka. Yah, karena Dongho, Daehwi sudah menjadi anak yang cepat akrab dengan orang-orang. Dongho begitu bangga dengannya.

Beberapa bulan berlalu dan keadaan kaki Daehwi mulai membaik, hanya saja pada suatu hari Daehwi dibingungkan oleh suatu hal. Yaa, sebenarnya Dongho Hyung kesayangannya itu sedang sakit apa? Karena Daehwi tidak pernah menemukan keanehan pada Dongho setiap kali mereka bermain bersama. Ia ingin bertanya, tapi selalu lupa jika sudah bertemu dengan Hyung kesayangannya itu.

Ah, hari ini pun ada yang aneh. Daehwi keluar dari kamarnya hendak membawa kabar baik untuk Dongho. Ia sudah menunggu dengan gembira di tempat mereka biasa bertemu, namun Dongho yang biasanya tidak pernah telat untuk bertemu dengannya kini sudah tiga hari tidak menampakkan batang hidungnya. Daehwi memanyunkan bibirnya, sebal karena Dongho tidak muncul juga.

“Apa Dongho Hyung sudah pulang? Tapi dia tidak pernah bilang mau pulang?” Daehwi menjadi kesal dengan Dongho dan memutuskan untuk tidak datang lagi ke sana.

Malamnya, ada yang mengetuk pintu kamar Daehwi. Daehwi yang kebetulan belum tidur memperhatikan saja tanpa mau menyahut ketukan pintu kamar dia dirawat. Tak berapa lama, pintu terbuka dan menampilkan wajah pucat Hyung kesayangannya, hanya saja Daehwi tidak sadar akan hal itu. Dia belum terlalu peka, dan berhubung dia sedang marah dengan Dongho, dia hanya diam dan mengalihkan pandangannya pada Dongho.

Dongho tersenyum kaku, ia mengusap tengkuknya dan berjalan pelan menuju Daehwi yang sedang duduk menonton televisi dengan kaki kiri yang dibiarkan lurus. Ia menaruh diri duduk di samping Daehwi kemudian menepuk pundak Daehwi pelan, meminta perhatiannya.

Daehwi hanya bergeming, ia terlanjur marah karena tiga hari tidak bermain bersama. Dongho hanya menghela nafas dan turun dari tempat tidur Daehwi.

“Maafkan Hyung, akhir-akhir ini Dokter ingin bertemu dengan Hyung jadi tidak ada waktu untuk bermain dengan Daehwi,”

Daehwi dengan rasa penasarannya menoleh, memperhatikan wajah Dongho yang terlihat sedih.

“Apakah Hyung sakit? Kenapa Dokter ingin bertemu Hyung?” Tanya Daehwi polos bermaksud menyalurkan rasa khawatirnya

Dongho terkekeh, ia mencubit gemas kedua pipi Daehwi kemudian mengusak kepalanya. “Tidak, Dokter mengajak Hyung bermain, itulah kenapa Hyung tidak bisa bermain dengan Daehwi,”

Daehwi mengangguk lucu kemudian kembali melihat Dongho begitu ingat akan kabar baik yang ingin dibagikannya dengan sang Hyung.

Hyung, Dokter bilang sebentar lagi Daehwi bisa berjalan dengan baik dan bermain bola seperti biasa!” Ujarnya penuh semangat

Dongho sedikit terkejut namun kemudian tersenyum senang dengan kabar baik dari Daehwi. Ia terus mendengarkan Daehwi yang kegirangan karena akan segera keluar dari rumah sakit dan bermain bola.

“Jadi, kalau Daehwi dan Hyung sudah pulang ke rumah, ayo kita main bola bersama!”

Dongho terhenyak. Ia terdiam akan ajakan tak terduga dari Daehwi. Diam-diam ia merasa sesak di dada, namun wajahnya ia tampilkan senyuman kesukaan Daehwi membuat Daehwi ikut tersenyum karenanya. “Tentu,” jawab Dongho sambil mengacak rambut Daehwi gemas sehingga membuat Daehwi benar-benar kegirangan.

Sampai bulan berikutnya, hari di mana Daehwi resmi keluar dari Rumah Sakit. Dongho sengaja menemaninya, mengantarnya sampai pintu depan. Daehwi tak berhenti tersenyum dan menggoyang-goyangkan tangan Dongho yang mengenggamnya.

“Kapan Hyung akan pulang?” Tanya Daehwi

Dongho terdiam, menatapi sepasang bola mata kecokelatan milik Daehwi. Ia menahan tangis, mencoba untuk tidak mengeluarkan sisi rapuhnya kepada Daehwi.

“Hm, mungkin bulan depan,” ujarnya sedikit lirih

Daehwi melompat senang, ia memeluk sang Ibu sementara sang Ibu menatap Dongho lembut. Ia mengusap kepala Dongho pelan namun penuh kasih sayang, “kau melakukannya dengan baik. Terima kasih sudah menjaga anakku,” ucapnya

Dongho tersenyum, menunduk singkat kemudian mengacak rambut Daehwi pelan sebelum Daehwi memeluknya erat.

“Aku tunggu, Hyung,”

..

.

Hongdae, 2025

Daehwi menekan nomor telepon seseorang begitu hari yang dinantikannya tiba. Ia mengetuk kakinya tanda tidak sabaran, seseorang di seberang sana nampaknya masih tertidur dengan pulas. Daehwi mengerang begitu operator yang malah menjawab panggilannya. Tak menyerah, ia mencoba sekali lagi, oh, kali ini berhasil di angkat.

Hyung, kau di mana?” Tanya Daehwi kesal

[“Maaf, aku baru saja selesai mandi. Aku akan segera menjemputmu, tenang saja!”]

Daehwi mendengus kemudian mematikan panggilannya. Ia menghabiskan waktu dengan melihat sederet poto Dongho dan dia, yang ia dapatkan dari pusat humas rumah sakit tempatnya di rawat dulu. Daehwi tersenyum mengingat kenangan-kenangan di dalamnya. Tanpa ia sadari, lelehan bening dari pelupuk mata sudah lolos begitu saja.

“Ah, kenapa aku menangis lagi, sih.” Kesalnya

Tak berapa lama, klakson mobil dapat ia dengar di luar sana. Buru-buru ia menghapus air mata dan merapikan kembali bajunya. “Daehwi-ya, ada Jihoon!” Pekik sang Ibu dari arah ruang tamu

“Iya Eomma, aku turun!”

Daehwi turun dengan tergesa-gesa tak lupa membawa rangkaian bunga Akasia dan Anyelir  yang sudah di persiapkannya kemarin. Ia memeluk sang Ibu kemudian mencium pipinya singkat.

“Nanti Ibu menyusul,” ujar sang Ibu dibalas anggukan sang anak

Jihoon menunduk pamit kepada Ibu Daehwi kemudian mengikuti Daehwi dari belakang menuju mobilnya. Daehwi mendudukkan diri di kursi penumpang di samping kursi pengemudi, dengan bunga yang ia peluk erat.

“Tahun ini pun, bunga yang sama?” Tanya Jihoon

Daehwi tertawa, “Kau tahu sendiri kan ini bunga kesukaan Dongho Hyung, aku bahkan tidak tahu ini sangat bagus dipadukan bersama,”

Jihoon tersenyum. Ia salut dengan Daehwi, bertahun-tahun ketika akan bertemu dengan Dongho, dia selalu membawakan bunga yang sama. Ah, dia pasti sangat menyayangi Dongho.

..

.

Begitu sampai di tempat tujuan, Daehwi tidak berbicara sama sekali. Ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang ingin disampaikannya kepada Dongho ia ukir dengan jelas di kepala. Jangan sampai ada yang terlupan, itu pikirnya.

Jihoon memperhatikan dari jauh, itu keinginan Daehwi jika sudah akan bertemu dengan Dongho. Tinggalkan mereka berdua saja.

“Apa kabar, Hyung?” Daehwi meletakan bunga dengan gemetaran. Padahal sudah biasa ia seperti ini, entah kenapa tubuhnya masih saja bergetar.

Ia menghela nafas kemudian mengusap tengkuknya. “Eum, sudah sembilan belas tahun sejak ketika terakhir bertatap wajah. Tapi, bukankah aku sudah berjanji akan menemuimu setiap tahun? Hehe,”

Daehwi duduk. Ia terlalu lemas untuk berdiri. “Hyung, kau tahu. Tahun ini pun aku berhasil meraih penghargaan yang didambakan semua orang itu. Aku hebat, bukan?”

Daehwi terdiam. Ia menghela napas panjang sambil menutup matanya. Tubuhnya serta bibirnya begetar, ia menggelengkan kepala kemudian kembali menatap ke depan.

“Oh iya, Hyung!” Ia kembali menghela napas, “apa kau ingat wanita yang kutaksir tahun lalu? Ah, Hyung ternyata dia hanya peduli materi, aku menyesal menyukainya, untung tidak jadi kupacari,”

Daehwi kembali terdiam, cukup lama hingga ia mulai menunduk dan merasakan wajahnya yang memanas, ah, tak lupa dengan gumpalan cairan di pelupuk matanya yang siap jatuh kapan saja.

“Ah, padahal aku sudah janji dengan Jihoon Hyung untuk tidak akan menangis,”

Ia menekuk kakinya, melipat kedua tangan diatas dengkul dan menenggelamkan wajah di sana.

“Aku merindukanmu Hyung. Padahal kau berjanji akan bermain bola bersamaku-“ ia terisak, “-kau memang sudah keluar dari rumah sakit, tapi bukan keluar untuk bertemu Tuhan seperti ini Hyung!” Isak Daehwi. Buliran bening tak tertahankan lagi olehnya, masa bodoh dengan janji, ia tidak bisa apa-apa bila sudah menyangkut Hyung kesayangannya ini.

“Ah, tidak. Aku saja yang tidak peka dengan penyakitmu, Hyung. Aku saja yang tidak peduli dengan terapimu. Padahal kau mau menyisakan waktu sedikitmu hanya untuk bermain bersamaku,”

Daehwi terisak hebat. Memukul dadanya yang terasa sesak, memukul kepalanya sambil mengatai diri sendiri bodoh. Jihoon memperhatikan dengan pilu, ia tidak bisa melakukan apapun. Daehwi akan mengamuk bila Jihoon datang dan mencoba menghentikannya, dan berakhir dengan Jihoon yang tidak akan dihubungi selama satu bulan.

Setelah setengah jam menangis dan mengoceh tak karuan, Daehwi terdiam, mengatur kembali napasnya, kemudian menyesali semua perbuatannya. Jujur ia malu karena tidak bisa mengontrol diri, padahal sudah sembilan belas tahun lamanya dan selama itu pula ia selalu menangis.

Terakhir, Daehwi memanjatkan doa dan mengelus batu persegi di depannya yang bertuliskan nama Hyung kesayangannya itu.

“Tuhan, terima kasih sudah bersama dengan Dongho Hyung selama sembilan belas tahun ini, kumohon jaga Dongho Hyung sebagaimana ia menjagaku dahulu,”

.fin.

.dengan.tidak.elegan.nya

Author note:

Olla~ Tri in da house yo~!

Halo, perkenalkan nama saya Tri. Jika anda pernah mendengar nama saya atau nama pena saya, selamat mungkin kamu jodoh aku /ga

Sebenernya, aku mau sedikit curhat :v aku adalah korban tutupnya oprec di blog ini, ceritanya waktu itu si mba budir(?) syudah share di l*ne, dan saat itu aku udah liat, dan aku udah baca, dan aku udah mantepin hati, but, karena aku lagi sibuk siang itu, maksudnya mau join malem aja, eeeh, ternyata.. ah sudahlah..

Kak, siapapun yang ngedit ini, aku mohon ini jangan dihapus /ga mutu kamu Tri/

Terima Kasih sudah baca fanfic aneh bin absurd ane^^

Salam, Tri dan Usul a.k.a Ujin Gingsul

Iklan

One thought on “[#1 Pick Me] Hyung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s